Ruang rindu, salah satu ruang dari “Ruangan” kehidupan bermorse-ria, yang memberi peluang untuk kita bisa mendengar, dan atau memperdengarkan merdunya kolaborasi nada, melalui permainan jemari, baik yang lentik maupun yang kekar, yang menghasilkan suara bertalu-talu dari bunyi dit dan dah.
Rindu adalah sebuah proses penantian yg panjang dan penuh lika-liku.
Setelah bertahun-tahun para penyuka kode morse “menghilang” dari Kampoeng Morse 144.280 Mhz dengan alasan berbagai rupa tentunya (?). Kini satu persatu mulai memunculkan.dirinya.
Sundulan manis pertama diakhir tahun 2011 dimulai oleh ibu Siska, penyuka kode morse dari Bogor, setelah hampir 8 tahun meninggalkan blantika kode morse.
Om Bray dari Cilandak, seperti tidak mau ketinggalan, dia juga melakukan sundulan walau agak keras pada spasi ketika saya sedang mengetuk / memperkenalkan bunyi katakter kode morse ke om Boby yg dengan semangat membara ingin belajar kode morse.
Beberapa hari yang lalu Om Dokter Darlan yang menghilang sejak belasan tahun yang lalu, memperdengarkan suaranya. Sekaligus curhat karena peralatan bermorse ria raib entah kemana, namun cinta terhadap kode morse takkan pernah hilang karena walau dengan siulan khasnya beliau tetap bermorse-ria.
Kampoeng Morse mulai terlihat “hidup” kembali. walau dipagi maupun malam hanya suara ibu Siska yang pada setiap kesempatan memanggil-manggil sebuah nama yang terdiri dari karakter huruf Papa, alfa, tanggo, romeo dan india.
Mudah2an ini merupakan tanda kembalinya para jawara kode morse dari kesaktiannya (baca, menghilang) dengan beragam alasan, termasuk yang menjalani “cuti akademik unlimited”.
Akhirnya, kerinduan adalah sebuah harap, dan harap adalah durasi panjang dari sebuah penantian. Akankah itu terjadi hanya engkau yang tahu.-
*** Pulogadung 12 Januari 2012 jam 15:15 wib.