Sudah 2 (dua) hari ini, saya berkesempatan berketuk ria di 144.280 Mhz dengan YC1MEQ ibu cantik Ellin Herlina,salah satu pemorse handal dari Lokal Bogor, setelah cukup lama tidak QSO atau berketuk-ria dengan beliau.Mungkin akhir-akhir ini beliau sangat disibukkan dengan “aktiPitasnya” sehingga kunci ketuk yang dulu sering disentuh seperti terabaikan. Namun karena morse (baca: kode morse) telah benar-benar terpatri dalam jiwa dan raganya, maka walau lama tidak berketuk-ria ataupun “monitoring sistem” (kata Om Ahong), ketukan dan penerimaannya masih tetap “cantik” seperti beliau.
Menjadi kebiasaan saya jika ketemu dengan beliau, untuk selalu mengatakan “QRQ pse” setelah komunikasi berjalan beberapa saat. Dan beliau selalu mengatakan (dengan ketukan) tentunya, “saya belum bisa,…. apakah ketukan ini bisa terbaca, dan seterusnya, dan seterusnya …….” yang semuanya terbaca dengan sempurna oleh saya. Saya tidak tahu berapa kecepatan ketukannya – karena saya tidak punya alat ukur, tapi yang pasti diperkirakan diatas 40 WPM.
Beliau selalu mengeluh, jika kecepatan seperti ini saya suka bingung, mau ketuk apa? ketika kehabisan kata untuk dirangkai menjadi sebuah kalimat. Dan saya selalu mengatakan kepada beliau, berhentilah mengetuk jika ketukan kita dalam posisi benar semua, artinya kalimat tersebut jangan diperpanjang. Kita sambung lagi pada kesempatan berikut. Karena dalam konteks “citra”, maka citra akan menjadi minor dihadapan pendengar, jika pada akhirnya ketukan kita menjadi error, padahal sudah cukup panjang semuanya lancar tidak ada salahnya. Namun karena kita paksakan untuk memperpanjang kalimat, akhirnya kita terjebak pada situasi kehabisan kata. Dan pada akhirnya ketukan menjadi tidak cantik lagi.
Ketika beliau merubah gaya ketuknya walau kecepatan tetap sama, maka saya selalu mengatakan ke beliau, waaah dikau merubah ketukan dengan gaya “berbaris”. Jujur saya sedikit mengalami kesulitan untuk membaca jika beliau merubah ketukannya menjadi gaya tentara berbaris. Karena ketukannya menjadi “patah-patah” menurut istilah berbaris ketika saya mengikuti latihan dasar kemiliteran saat mahasiswa dulu. Kecepatan tetap sama namun jarak antar karakter yang beliau jarangkan. Teknik ini adalah merupakan cara mensiasati, sehingga pengetuk mendapat waktu untuk berpikir dalam menyusun kalimat.
Terlepas dari itu semua, sebagai seorang yang suka dan mencintai morse, tentunya akan terus berupaya untuk membaca ketukan yang dikirim oleh siapapun dalam gaya apapun (kalau memang kita bisa). Gaya ketukan beliau dengan kecepatan tinggi yang mengalir bagai air sungai Bengawan Solo menjadi sangat indah untuk dibaca, dari pada beliau ngetuk dengan gaya berbaris. Namun perlu diingat, bahwa kasus ini hanya berlaku ke diri saya Patri – YD0MFW tidak untuk orang lain, karena orang lain akan bisa membaca dengan baik dan benar.
Sebuah kerinduan, jika pada setiap kesempatan beliau selalu memberi waktu untuk berketuk ria. Akhirnya, …… “morse bukan sekadar bunyi tetapi sebuah jiwa”.-
Pulogadung, Selasa, 21 Juni 2011. jam 15.19
ecachayank
23 Juni 2011 at 10:37 AM
semoga tetap b’lanjut, jd gak sepi frekuensinya dan jiwa-jiwa yg senantiasa t’bunyikan oleh bunyi-bunyian kode morse selalu b’gairah m’bahana….
pat3adri
23 Juni 2011 at 6:11 PM
Mahesa, … itu yang diharapkan oleh berbagai lapisan masyarakat. Namun sayang dikau sekarang sedang tidak “menyukai” berketuk ria, mungkin bawaan “dede”. Namun tak mengapa walau jiwa-jiwa tersembunyi namun dia tetap ada karena “morse bukan sekadar bunyi tetapi sebua jiwa”. Terima kasih komennya salam hormat dari “puncak” GICA Pulogadung.-
ecachayank
24 Juni 2011 at 8:16 PM
Salam sejahtera OM Patri,….mungkin untaian kata dr “morse bukan sekadar bunyi tetapi sebuah jiwa” bagi seorang saya blm t’patri utuh dalam jiwa raga. Tapi yg mampu di t’jemahkan oleh saya saat ini dalam memahami untaian dr kata itu adalah tetap menggunakan teknik “4D” yg seperti OM Patri pernah paparkan dlm tulisan-tulisan yg lalu….(mungkin juga itu bagian dr “seni” m’pelajari kode morse). Bahwasanya ada kekurangan dalam “memainkan” jiwa-jiwa itu dalam bentuk bunyi-bunyian itu tentunya didasari b’bagai faktor, yg salah duanya yg disebutkan di atas
Ok, terima kasih atas balasannya OM Patri…salam hormat kembali dr PSM.
Ellin herlina
8 Juli 2011 at 9:11 AM
QRQ woooow….jari2ku rasanya sdh tdk mampu lagi nih apalagi tombol sdh gk bs di puter lagi alias sdh max, kumaha atuuuh….pdhl msh blm sejajar dgn ketukanmu, nyerah deh aq…? Maklum jari2ku blm aq asuransikan cu 73 wpm