Ketukan Universal dan Ketukan Individual

Posted in Amatir Radio on 19 September 2009 by pat3adri

Copy of 800px-Vibroplex_06Dalam komunikasi dengan menggunakan kode morse, maka daya komunikasi akan sangat ditentukan oleh sang pengetuk dan sang penerima. Seberapa sempurnanya ketukan seseorang dan seberapa sempurna pula kemampuan seseorang untuk menerima ketukan, akan membuat kode morse itu dapat dengan sempurna pula “berbicara”.Dalam ‘blantika’ kehidupan kode morse khususnya dari sisi pengetuk,  maka terdapat dua jenis ketukan. Yang pertama jenis ketukan “Universal” dan yang kedua jenis ketukan “Individual”.

Jenis ketukan Universal, adalah ketukan  ideal yang pada umumnya dapat diterima oleh berbagai tingkatan  kecakapan (speed).  Mengapa demikian ?… Ketukan jenis ini mengacu kepada filosofi dasar kode morse yaitu perbandingan panjang bunyi antara nada pendek dan nada panjang, adalah 1 berbanding 3.  Bunyi ‘dit” memiliki tempo 1 (satu) dan bunyi ‘dah’ memiliki tempo 3 (tiga) dengan spasi antar karakter memiliki tempo 1 (satu), sedangkan spasi antar kata memiliki tempo 3 (tiga).

Jenis ketukan Individual, adalah ketukan yang sifatnya  subyektif.  Ketukan ini  melucuti filosofi dasar kode morse seperti yang dijelaskan diatas. Ketukan jenis Individual terbagi dalam 2 (dua) golongan. Yang pertama Full Individual, dan yang kedua Semi Individual seperti pada  gaya ketukan SideSwiper, Semi Elektronik, dan Up & Down – yang tidak dibahas dalam tulisan ini.

Yang paling ekstrim dari 2 golongan ketukan Individual ini, adalah ketukan jenis Full Individual. Golongan pengetuk jenis ini tidak mau tahu dan memikirkan apakah ketukannya bisa terbaca atau tidak – karena dia mengetuk dengan maunya sendiri, dimana hanya dia dan Tuhan yang tahu.  Golongan ini terdiri dari orang yang belum cakap mengetuk kode morse, dan orang yang telah bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun menggeluti dunia morse namun memiliki “kesombongan senioritas”.

Kesombongan senioritas bisa timbul karena beberapa hal. Pertama karena yang bersangkutan memang benar sombong dalam konteks kode morse. Dan yang kedua karena yang bersangkutan sebenarnya mau menutupi kekurangannya dalam hal mengetuk.   Ruang waktu, tidak akan menjadi takaran bagi seseorang untuk dapat mengetuk dengan baik dan benar, karena karaketer diri dan permainan jari-jemari seseorang tidak pernah akan sama antara satu dengan yang lainnya.

Huruf R (romeo) jika dibunyikan dengan mulut akan berbunyi seperti ini ‘didadit’. Sementara untuk sebuah suku kata Cinta misalnya, akan berbunyi seperti ini ‘dadidadit (spasi) didit (spasi) dadit (spasi) da (spasi) dida. Semua kalangan pemorse diseluruh penjuru planet bumi ini akan dapat membacanya (sesuai dengan tingkat kecakapan speed yang dimiliki). Sementara jika suku kata Cinta, dibunyikan seperti ini ‘dadidaditdiditdaditdadida”, maka saya yakin dan percaya Samuel FB Morse sekalipun, ketika ketukan itu terdengar tidak akan dapat membacanya – ketukan tersebut bisa akan mungkin terbaca, jika kata cinta itu diketuk secara berulang-ulang dan sipenerima (pada tingkatan tertentu, pula…) harus mengeluarkan kemampuan,  nalar, improvisasi, kreaktivitas, dan seluruh potensi yang ada pada dirinya untuk memahami, mengerti, dan membaca bunyi tersebut. Dan sudah barang tentu ketukan seperti itu tidak “layak tayang” untuk sebuah proses komunikasi – karena proses komunikasi adalah proses yang bersifat seketika.—

Berbagai Ketukan dan Alunan Bunyi Kode Morse

Posted in Amatir Radio on 15 September 2009 by pat3adri

Bagi orang yang benar-benar telah menguasai kode morse, berkomunikasi dengan ketukan (kode morse) adalah suatu yang mengasyikan. Apalagi permainan jari jemari dapat menghasilkan sebuah  ketukan  yang “berwarna-warni” yang oleh sebagian orang dikatakan sebagai pola ketukan yang keluar dari pakem kode morse.

Ketukan yang ‘terseok-seok’ yang merupakan ciri khas gaya  SideSwiper memiliki keindahan tersendiri dan dapat membuat seseorang yang mendengarnya ( yang telah mengerti tentunya) akan larut dalam alunan bunyi yang mengasyikan itu.

Ketukan yang ‘terbata-bata’ yang merupakan ciri khas gaya SemiElektronik, akan membuat sipengetuk ikut menggoyang-goyangkan kaki atau kepala mengikuti bunyi yang diketuknya. Belum lagi dengan gaya ketukan yang penulis namakan gaya ‘Tafuraga” dimana ketukan ini perbedaan antara ‘dit’ dan ‘dah’ hampir nyaris sulit dibedakan. Ketukan gaya Tafuraga ini mulai diperdengarkan pada sekitar tahun 2000 an oleh beberapa rekan yang selalu mangkal di ‘kampoeng morse’ – 144.280 Mhz, dan sampai saat ini tetap konsisten bahwa ‘bermain morse’ adalah sebuah seni.

Seni adalah ranah tanpa batas, artinya dalam konteks bermain morse,  terbuka peluang untuk munculnya gaya-gaya ketukan – yang tentunya filosofi dasarnya sama yaitu ada nada pendek (dit) dan nada panjang (dah). Untuk kalangan penganut fanatik gaya konvensional yang merujuk pada panjang bunyi ‘dah’ adalah 3x panjang bunyi ‘dit’, maka akan sulit untuk membaca ketukan-ketukan seperti yang dijelaskan diatas – alias tidak dapat membacanya.

Bahasa adalah sebuah komitmen. Jadi kalau  kode morse ini kita sepakati sebagai sebuah ‘bahasa’, maka untuk mengerti bahasa tersebut kita perlu mempelajarinya. Bagaimana cara mempelajarinya…. Yaa tentunya dengan mengikuti berbagai cara antara lain dengan teknik  4D ( dengar, dengar, dan dengar). Kalau kita telah mengerti dan memahaminya, maka lahirlah sebuah komitmen bahwa bunyi seperti ini, adalah karaketr huruf A dan seterusnya – dan seterusnya. Yang pada akhirnya atas dasar komitmen itu, maka komunikasi akan dapat terjadi antara pengetuk dan penerima……. Ooooh indahnya kode morse.-

Kebangkitan Amatir Radio di Indonesia

Posted in Amatir Radio on 18 Juni 2009 by pat3adri

Logo Orari2Jika KEPMEN baru tentang Pedoman Kegiatan Amatir Radio di Indonesia sebagai pengganti KEPMEN No. 49 Tahun 2002 yang kontroversial itu akan terbit, maka benarlah kata Kris Dayanti,  kita tinggal menghitung hari untuk sebuah ‘kebangkitan’ Amatir Radio di negeri ini. Amatir Radio akan dilahirkan kembali seperti harapan YD1XUH.

Kamis 10 September 1992 tulisan saya dengan judul Amatir Radio Antara Harapan Dan Kenyataan, dimuat di Koran lokal ‘Cahaya Siang” Manado dan dibaca oleh orang yang membacanya tentunya. Intinya adalah tentang keberadaan organisasi ORARI yang terkenal sebagai wadah tunggal (?) serta kwalitas anggota amatir yang menurut istilah YD1XUH sebagai ‘numpang gaya’.

Kembali ke KEPMEN yang mungkin (?) akan segera terbit. Jika benar dalam KEPMEN yang baru nanti tidak ada lagi pasal yang mengatakan   “setiap pemilik IAR  wajib menjadi anggota Organisasi Amatir Radio Indonesia (ORARI)’  -  dalam perspektif wadah tunggal,  maka ini akan menjadi momentum kebangkitan amatir radio di negeri ini dan wujud dari demokratisasi (baca kebebasan)  dalam tubuh amatir radio di Indonesia.

Muncul pertanyaan,… sanggupkah para amatir radio baik perseorangan (sesuai dengan jiwa UU No. 36 Tahun 1999) atau  kelompok organisasi  yang akan terbentuk nanti (?)   setelah KEPMEN baru di berlakukan, mampu “memainkan” kebebasan itu dengan menampilkan potret amatir radio yang elok untuk dipandang, santun untuk didengar, ramah untuk diajak komunikasi, mengerti, memahami dan taat pada ketentuan-ketentuan berradio, trampil sesuai dengan tingkat kecakapannya dan lain-lain, dan lain-lain sebagainya…???……

Tantangan buat kita semua.-

Morse Memang Indah

Posted in Amatir Radio on 18 Juni 2009 by pat3adri

Morse (kode morse)  memang indah,…. karenanya para pemorse sejati tetap memosisikan morse (kode morse) sebagai salah satu kegiatan (bermorse-ria) dalam setiap kesempatan ditengah-tengah kesibukan kesehariannya. Riuh rendahnya alunan nada tone yang selalu membahana, adalah merupakan bukti nyata bahwa morse itu masih dicintai sampai saat ini.

Ada 3 hal yang mendasar yang membuat nada tone (kode morse) itu selalu dan selalu terdengar. Pertama, adanya “ruang waktu”, artinya para pemorse masih setia meluangkan waktu untuk berketuk ria. Kedua, adanya “ruang rindu”, artinya dalam 1 kali 24 jam, kerinduan untuk mendengar dan mengirim kode morse selalu menggoda si pemorse itu. dan yang ketiga, adanya “ruang publik”, artinya si pemorse itu memiliki peluang untuk “mempertontonkan” kepada publik (baca, pendengar) untuk menunjukan kepiawaiannya dalam memainkan kunci ketuk dengan jari-jemarinya yang lembut,lentur dan lentik, serta kepekaan telinganya untuk menerima kode morse dalam berbagai kecepatan dan gaya ketukan.

Merdunya deburan dan indahnya buih-buih ombak di pantai Anyer Banten dan pantai Bunaken Manado akhirnya akan berakhir juah di tepian, namun indahnya ketukan dan merdunya irama kode morse tak akan hilang ditelan  sang waktu…-

Didadit Didadit vs Didadididadit

Posted in Amatir Radio on 28 November 2008 by pat3adri

hk706“Morse (kode morse) bukan sekadar bunyi tetapi sebuah jiwa”. Itulah yang selalu saya kumandangkan, dan tulis pada setiap kesempatan. Namun pada kesempatan ini tidak dibahas  tentang jiwa tetapi tentang bunyi.  Dasar dari kode morse adalah bunyi, dan bunyi itu terdiri dari nada pendek (dit) dan nada panjang (dah). Dari kedua bunyi itulah karakter kode morse terbentuk.
Karena karakter kode morse adalah bunyi, maka sudah barang tentu setiap karakter mempunyai irama sendiri-sendiri dan berdiri sendiri. Mempelajari kode morse berarti mempelajari bunyi. Mempelajari bunyi berarti menghafal bunyi tersebut. Itulah sebabnya pada setiap pembelajaran kode morse di tahap dasar,  tutor akan selalu memberi petunjuk untuk membunyikan  kembali dengan mulut bunyi kode morse yang diketuk oleh sang tutor.

Jadi intinya bahwa belajar kode morse, adalah belajar menghafal irama dari masing-masing karakter baik huruf, angka, dan tanda baca. Namun disayangkan masih saja ada tutor yang senior  yang lupa atau terlupakan akan pemahaman seperti yang dijelaskan diatas. … (mungkin karena sudah terlalu lama bergelut dengan kode morse … ??? … atau …??? . … muuungkin. …??).

Kejadian yang terjadi pada Selasa 25 November 2008 di “frekuensi bergengsi” 144.280 Mhz adalah gambaran bahwa masih ada pemorse yang lupa (?) bahwa setiap karakter kode morse mempunyai irama sendiri-sendiri. Terbukti pada hari itu di frekuensi tersebut saya sedikit berkomentar untuk mengomentari apa yang dikatakan oleh sahabat saya, bahwa tanda kutip ( ” ) bunyinya adalah “romeo romeo” atau didadit didadit. Saya yakin Samuel FB Morse akan marah jika saat itu dia sedang monitor di 144.280 Mhz. Karena Romeo Romeo adalah didadit didadit.

Sementara tanda kutip ( ” ) adalah didadididadit.  Ini fatal dan merupakan ajaran sesat dalam  pembelajaran kode morse menurut pendapat saya. Bunyi kedua objek tadi jelas-jelas berbeda Roreo Romeo berbunyi didadit didadit sementara Tanda Kutip ( ” ) berbunyi didadididadit.

Kalau ini kita samakan dengan sebuah lagu ciptaan kaka dari group band Slank, maka itu adalah dua buah lagu yang berbeda lirik dan iramanya.

Ingat … ingat . … memahami, mengerti, dan menguasai  kode morse, adalah dengan  mendengar sekaligus menghafal iramanya atau bunyinya.- 73 bye.

Ketukan Tafuraga Aneh Tapi Nyata

Posted in Amatir Radio on 14 Oktober 2008 by pat3adri

Kurang lebih tujuh tahun yang lalu di frekuensi 144.280 Mhz  – yang oleh canda seorang rekan  disebut sebagai frekuensi bergensi (?), terdengar gaya ketukan yang aneh dan  akan sulit terbaca  oleh seorang pemorse handal sekalipun, jika baru mendengar gaya seperti  itu.

Sebuah fenomena baru,  muncul dalam blantika morse  pada saat itu., ketika oleh beberapa  rekan antara lain YD0GQF (Om Ugan),  YC1PLH (Mbak Lanthy), dan YD8RNC (Om Patri)  memainkan gaya ketukan itu. Tafuraga adalah nama yang diberikan oleh YD8RNC ketika itu , untuk  gaya ketukan  kode morse yang menyimpang dari gaya konvensional, karena hanya menggunakan nada pendek (dit) dalam pembentukan seluruh karakter kode morse.  Aneh?. …. tapi nyata.

Kita semua mengetahui bahwa dasar dari kode morse adalah bunyi nada pendek (dit) dengan simbol titik dan bunyi nada panjang (dah) dengan simbol garis.  Artinya bunyi dari karakter – karakter kode morse terbentuk dari kedua nada tersebut. Karena itulah maka YD1EDE (Om kaka) mengatakan bahwa  gaya tafuraga sebagai “aliran setan” (?).

Saya tidak tahu apakah Samuel FB. Morse  yang telah terbaring  di haribaan  beberapa ratus tahun yang lalu, akan tersenyum atau geram,  jika  mendengar rekan-rekan pemorse di frekuensi 144.280 Mhz termasuk YC0TSU (Mbak Cekil) yang beberapa hari lalu  mulai “larut”  dan “terninabobokan” oleh  gaya Tafuraga dalam bermorse-ria.

Sudah bisa dipastikan bahwa banyak yang tersenyum, dan banyak pula yang geram, saat mendengar “lagu Tafuraga” di dendangkan di frekuensi 144.280 Mhz  (frekuensi yang saya kenal  pada tahun 1997 sebagai “Kampoeng Morse”).  Suka dan tidak suka, tersenyum dan geram adalah hal yang biasa dalam hidup ini. Karena hidup ini pada hakekatnya saling beroposisi.

Diterima atau tidak gaya ketukan ini dalam komunitas pemorse pada umumnya, adalah lebih bersifat subyektif. Sebuah penghianatankah gaya Tafuraga.. ? Entahlah…. ?  Namun terlepas dari itu semua,  ketukan dengan  gaya Tafuraga yang mulai marak kembali akhir-akhir ini masih bisa terbaca dengan jelas oleh rekan-rekan terutama YC1PLH.

Aneh. …… tapi nyata.-

Teriakan High Speed

Posted in Amatir Radio on 22 September 2008 by pat3adri

Jumat malam tanggal 2 Agustus 2008 kurang lebih pukul 21.30 wib,…. …. teriakan seseorang membuat saya “terangkat” dari kursi yang selalu setia menopang “bujur” saya – kata teman dari Bogor. Seperti biasa, sambil menunggu rekan-rekan yang akan “bermorse -ria” saya mengadakan pemanasan untuk melemaskan jari-jemari, dengan memancarkan ketukan melalui frekuensi 144.280 Mhz. Memang speed ketukan lumayan kuencaang. Maklum untuk “memancing” para pemorse handal yang telah menembus batas untuk keluar dari “sarangnya”…. (ha…3). Mengapa pantat saya sampai terangkat…??… yaaah ialahlaah.… masa tidak terangkat…??, manakala saya melepas lock deskmike tiba-tiba terdengar TERIAKAN “Jangan pake komputer dong kalo ngetuk”. Welleeeee….. welleeee…. saya terdiam, bingung dan kembali merenung, apa iya ketukan elektronik tangan kanan saya yang menggunakan pedal ganda buatan sendiri sama dengan bunyi ketukan yang dihasilkan oleh komputer ??. Hal ini memang pernah terjadi di tahun 2003 saat rekan mempersilahkan saya gabung di frekuensi dengan mengatakan “Yaah yang dengan komputer silahkan masuk…..” ???. Benar atau tidak pernyataan itu tidak dipermasalahkan dalam tulisan ini. Karena yang menjadi permasalahan adalah, sudah sebegitu jauhkah pemahaman para pencinta morse ataupun calon pencinta morse??? terhadap bunyi-bunyian berirama yang terkolaborasi dari nada pendek dan nada panjang…????. Apakah di blantika morse masa kini telah terdominasi oleh bunyi-bunyi ketukan yang dihasilkan oleh mesin (komputer)… ??? oooh…. oooh…. ini PR buat para pencinta morse sejati.-

Accounting dan Morseting Sebuah Kenyataan..?

Posted in Amatir Radio on 25 Juli 2008 by pat3adri

Judul yang agak unik, karena sejatinya “perhitungan-perhitungan keuangan kurang pas untuk digunakan dalam “perhitungan-perhitungan morse”, namun itulah realitas atau potret blantika morse di negeri ini yang sering di bicarakan dan selalu “termonitoring sistem” – maksudnya terdengar di radio, menurut istilah temanku apalagi saat akan diselenggarakan sebuah event, baik lokal maupun nasional.

Rasa “gimanaaa gituu” kepada Samuel Finley Brezee Morse serta “keturunannya” yang lain yang juga tersebar di belahan bumi khususnya di bumi nusantara ( karena itu ada nusantara net ), sepertinya terkalahkan oleh nilai rupiah yang akan di dapat. Jadi bukan lagi kepada nilai kebanggaan yang akan di dapat dalam sebuah perlombaan menerima kode morse. Atas dasar itulah maka kegiatan accounting dan morseting dalam komunikasi sering terdengar.

Kamis pagi tanggal 24 Juli 2008 di salah satu frekuensi dua meter band terdengar lagi 3 orang “morser” sedang asyik “beraccounting” sehubungan dengan perlombaan yang akan dilaksanakan di kota Pontianak Kalimantan. Komponen yang digunakan dalam accounting mencakup, pertama dan yang utama, jumlah rupiah untuk hadiah, Kedua, jarak tempuh perjalanan, ketiga, moda transportasi yang di gunakan, keempat, akomodasi dll. Sedangkan morseting adalah pertama, meningkatkan kemampuan menerima ataupun mengetuk walau tinggal beberapa hari perlombaan, kedua, menyiasati teknis perlombaan (juklak). Misalnya jika dalam juklak dikatakan peserta lomba kode morse minimal 5 orang, dan yang hadir (peserta) saat itu hanya 3 orang. Untuk mengatasi keadaan itu kata salah satu rekan yang berQSO, “gampang, kita siasati dengan mendaftarkan rekan lain yang tidak memiliki kemampuan yang cukup dalam menerima kode morse untuk menjadi peserta. Sehingga ketentuan juklak terpenuhi ( karena diatas kertas sudah bisa di pastikan siapa juaranya ). Dan mungkin ada trik-trik lain yang penulis belum paham alias belum dengar (?).

Kalau TVone dengan pembawa acara si cantik nan pintar Tina Talisa dalam acara Apakabar Indonesia bisa mengundang Samuel Finley Brezee Morse untuk menjadi nara sumber untuk topik “morse bukan sekadar bunyi tetapi sebuah jiwa”, maka dengan berbagai macam cara saya akan berusaha untuk terlibat dalam acara itu. Dan tentunya dengan jiwa besar pula saya juga akan menerima ( bukan setuju ) jika akhirnya Samuel FB Morse oleh si cantik Tina Talisa di simpulkan, menerima dan membenarkan Accounting dan Morseting ibarat uang logam dengan dua sisi yang berbeda namun satu, di dalam kehidupan bermorse-ria di negeri ini.

Saya teringat ketika ber QSO dengan YD1JDH pada kurang lebih enam tahun yang silam, beliau menyampaikan pertanyaan “jika dalam lomba morse pemenangnya mendapat hadiah sebuah handuk kecil berwarna putih, dan tipiiis lagi, ….. adakah pemorse yang akan mengikuti lomba…….???”. Jika nilai kebanggaan pergi bersama angin, maka rumput yang bergoyanglah yang akan menjawab itu.-

 

Antara Morseawi dan Manusiawi

Posted in Amatir Radio on 22 Juli 2008 by pat3adri

Selasa pagi, dua puluh dua juli dua ribu delapan, adalah merupakan hari yang kurang menyenangkan dalam “sejarah perjuangan pergerakan pembelajaran kode morse”. Mengapa tidak, pagi itu rekan yang mendengar, menerima, dan mencatat ketukanku sepertinya sedang terserang “HAMBURGER” menurut istilah YC1PLH. Ibu Lanthy (YC1PLH) yang akrab dipanggil “Bulan” di frekuensi 144.280 Mhz, adalah pemorse handal dari Lokal Sukabumi namun berdomisili di Bogor. Jujur saja secara Manusiawi saya selalu “cembokur” dengan kemampuan menerima kode morse (dengan telinga) dari Ibu cantik tersebut. Sebagai orang yang hobi mengetuk (dengan tangan) pada setiap kesempatan saya selalu mencoba berbagai gaya ketukan yang kadang kala membuat orang yang mendengar menjadi bingung karena menurut mereka ketukan itu menyalahi kaedah-kaedah kode morse (padahal tidak, karena masih ada dit & dah dalam bunyi ketukan itu). Mengapa orang lain tidak dapat membacanya??… Jawabnya karena mereka tidak atau tepatnya belum menemukan nada pendek dan nada panjang yang merupakan kunci dari kode morse.

Kembali ke hari yang kurang menyenangkan. Dinamika yang terjadi dalam pembelajaran pagi tadi benar-benar-benar, membuat si pengetuk menjadi “gregetan”. Secara Morseawi saya bersedih karena beliau terserang virus “HAMBURGER” sehingga pendengaran dan penulisan menjadi HAncur Macam buBUR GERobak dorong“. Namun secara Manusiawi saya sangat-sangat memahami sebab belajar ataupun bermain morse, merupakan totalitas karenanya faktor-faktor internal dan external akan saling pengaruh mempengaruhi.

Hancurnya Sebuah Ketukan

Posted in Amatir Radio on 17 Juli 2008 by pat3adri

Judul tulisan ini sepertinya terlalu “melankolik” – ibarat sebuah sinetron, tapi itulah sebuah kenyataan dari “kehidupan bermorseria”. Tulisan ini terinspirasi dari email seorang rekan amatir yang dikirim ke alamat email saya 428@morse-yd0mfw.com Inti dari email tersebut adalah sebuah pernyataan sekaligus pertanyaan tentang “kebingungan” dirinya akan dinamika morse itu sendiri saat beliau berketuk ria dengan seorang pemorse handal. Padahal kalau beliau mau merujuk kepada apa yang selalu saya “gaungkan” bahwa morse bukan sekadar bunyi tetapi sebuah jiwa, kebingungan beliau tidak akan tertuangkan dalam email yang barusan saya baca. Apa yang menjadi kebingungan sahabat saya itu…?? Kata beliau dalam email “aku bingung apakah daya penerimaan saya yang menurun atau ketukan itu yang hancur-hancuran …?”. Saya tahu persis kemampuan sahabat saya itu. Saya pikir beliau hanya lupa bahwa “morse bukan sekadar bunyi tetapi sebuah jiwa”. –

Menuangkan Bunyi Menjadi Tulisan

Posted in Amatir Radio on 9 Juli 2008 by pat3adri

Rabu 09 Juli 2008 rutinitas “pembelajaran” kode morse dengan YC0LIH pada pagi hari sebelum berangkat kerja terus berjalan seperti seperti biasanya. Berbagai dinamika bermunculan dalam proses “pembelajaran” tersebut, baik hal-hal yang bernuasa canda sampai kepada hal-hal yang serius, termasuk “keluhan” dari Ibu Eva karena ada beberapa karakter tanda baca yang belum dapat ditulis dengan benar di kertas latihannya. Kata Ibu Eva…. kalau karakter tersebut di ketuk satu-satu saya pasti dapat, tapi kalau sudah menjadi satu kelompok koq susah”. Jawaban saya singkat saja “alabisa karena biasa” . Belajar kode morse (menerima dengan telinga dan mengirim dengan tangan) membutuhkan waktu. Ada proses waktu yang berjalan disitu. Ada proses waktu untuk membedakan bunyi nada pendek (dit) dan nada panjang (dah), ada proses waktu untuk menghafal bunyi masing-masing karakter (karena masing-masing karakter memiliki irama sendiri-sendiri), ada proses waktu untuk membedakan spasi antar karakter, kata, termasuk spasi antar kelompok, ada proses waktu untuk menuangkan bunyi menjadi sebuah tulisan, dan masih banyak lagi termasuk proses waktu untuk mengetuk dengan baik dan benar. Kembali ke keluhan YC0LIH. … Mengapa hal itu masih terjadi ke Ibu Eva?. Jawabannya adalah karena ibu Eva sekarang ini sedang berada pada proses waktu “menuangkan bunyi menjadi tulisan”. Akhirnya melalui tulisan ini mohon maaf untuk YC0LIH karena terpaksa saya harus meninggalkan kunci ketuk karena buru-buru ke kamar kecil dan tidak sempat pamit sampai berangkat kantor. Sampai jumpa 73 bye.-

Kode Morse dan Lampu Lalu Lintas

Posted in Amatir Radio on 28 Juni 2008 by pat3adri

Sabtu 28 Juni 2008, jarum jam digital yang ada diatas radio VHF menunjukan angka 08.18 wib saat “pembelajaran kode morse” munurut istilah YC0LIH diakhiri karena “situkang ngetuk” harus bersiap-siap untuk berangkat kerja. Seperti biasa jika ada kesempatan setiap pagi Ibu EVA – YC0LIH anggota Orari Lokal Senen selalu menyiapkan “kuping, hati, dan ekspresi” untuk meningkatkan kemampuan menerima bunyi kode morse. Pembelajaran berjalan lancar-lancar saja. Kemampuan menerima bunyi kode morse beliau selang kurang lebih 4 bulan ini telah sangat mengalami peningkatan. Untuk komunikasi dengan kecepatan 12 WPM sepertinya hampir sudah tidak ada masalah lagi. Jujur saja sebenarnya pada awal-awal beliau mulai “belajar” saya mengarahkan beliau berlatih full komunikasi. Namun pada beberapa hari yang lalu saya “menangkap” adanya signal bahwa YC0LIH lebih berpotensi ke arah perlombaan. Karenanya pola latihan menjadi berobah ke arah materi-materi perlombaan. Latihan pagi tadi cukup meyenangkan karena seperti biasanya selalu diselingi dengan canda-canda ringan, sampai diskusi-diskusi kecil. Pagi tadi materi diskusi adalah tentang Perilaku berlalu lintas masyarakat masa kini (Jakarta), khususnya pengemudi kendaraan umum yang kebanyakan sudah tertular virus buta warna”. Saat ini lampu pengatur LL berwarna merah dibaca sebagai hijau dan sebaliknya. ….. Entah kapan “virus” ini akan tertular ke seluruh masyarakat Jakarta….. ???. Sehingga hukum (baca peraturan lalulintas ) akan disesuaikan karena menurut Sosiologi hukum “perkembangan dalam masyarakat harus diikuti dengan perkembangan dalam hukum”. - (yd0mfw-Cijantung 28 Juni 2008).-

LAGI-LAGI PEMBUKTIAN DALIL

Posted in Amatir Radio on 25 April 2008 by pat3adri

Seperti biasa sebelum berangkat kantor “morning qso by tone” meramaikan frequensi. Kali ini di 144.980 Mhz, saya bermorse-ria dengan seorang pemorse cantik dari bogor ibu Ellin – YC1MEQ. Komunikasi dengan kecepatan diatas 40 wpm dengan gaya elektronik untuk seorang YC1MEQ adalah hal yang biasa-biasa saja, bahkan sesekali ketukan kita berganti-ganti gaya seperti SEMI, SLIPPER – makum beliau sudah mulai menembus batas (?). Ketuk – mengetuk mulai sedikit tersendat saat saya meminta QRQ (menaikan kecepatan). Nah… disinilah pembuktian dalil ‘tertayangkan’ lagi bahwa “morse bukan sekadar bunyi tetapi sebuah jiwa” . Saat kita QSO dengan phone, beliau mengajukan pernyataan…… bukan pertanyaan lho… kata beliau ‘aku heran kenapa ya suatu ketika saya mengetuk dengan panjang lebar pada kecepatan tinggi, terasa sangat santai, tidak ada kesalahan dalam ketukan. Tetapi ketika saya akan membuat rekaman dari ketukan seperti yang saya maksud tadi, koq banyak salahnya…… heran aku …. kenapa ya..?’. Rasanya saya ingin teriak pada saat itu untuk mengatakan dan memperdengarkan ke ‘pendengar’ setia ‘radio morse’ bahwa PERNYATAAN ibu Ellin YC1MEQ lagi-lagi ‘mengumandangkan’ pembuktian DALIL. Dalam tulisan ini tentunya tidak akan di jelaskan panjang lebar kenapa hal itu terjadi. Karena jika anda seorang pemorse dan mencintai morse (ada pemorse tapi tidak mencitai morse lho) anda pasti tahu,….. dan tidak akan bertanya pada rumput yang bergoyang…. Sampai jumpa, dadadididit didididada dididadida dadidida dit dit.-

Puisi Morse Seorang Morser

Posted in Amatir Radio on 18 Maret 2008 by pat3adri
Dalam mimpi..
Tiap kali aku mendengar ketukanmu,
Ada sakit yang menusuk kalbu,
Takkala kudengar kau sedang mengetuk tapi bukan untuk aku.
Setiap pagi aku menantikan seorang diri,
kutunggu ketukanmu,
kusimak ketukan demi ketukan, adakah sapa untukku.
Barangkali kau tidak ingat lagi pada diriku ini,
Atau mungkin kau tak sudih lagi menyapaku…. sayang.
Barangkali sudah ada bunga pengganti diriku.
Kau tutorku, kau dambaanku dalam mengetuk.
Tiap kali aku mendengar ketukanmu,
Rasa benci semakin menggebu,
Ingin rasanya kupergi berlalu
Meninggalkan suara ketukanmu.
Pagipun berlalu dan malampun tiba.
Tapi sayang, ketukanmu tak kunjung kudengar.
Kupanjatkan doa padamu Tuhan namun engkau tak pernah kembali.-
(Ditulis oleh seseorang melalui pesan singkat 13 maret 2008 jam 17.30 wib)

Ketukan High Speed

Posted in Amatir Radio on 11 Maret 2008 by pat3adri

Beberapa waktu yang lalu seorang teman (pemorse) tentunya,… “curhat” ke saya bahwa ada rekan yang sedang belajar morse bertanya tentang kecepatan ketukan – mungkin karena selalu mendengar saya dengan temanku itu sering berkomunikasi dengan kecepatan tinggi (high speed). Rekan yang baru itu mengatakan bahwa mengetuk itu tidak perlu cepat-cepat (high speed) kan amatir radio adalah “………………… dengan perlahan dan sabar……………..” – kode etik maksudnya (?). Saya hanya bisa tertawa, masih ada juga ya senior(?) yang memberikan “pemahaman sesat” bagi rekan-rekan yang baru belajar kode morse. Saya jadi teringat dua kasus pertama, seorang penggalang dari call area one pada tahun 1999 pernah mengatakan hal yang sama dan itu langsung kepada saya bahwa beliau tidak mau cepat-cepat 12 wpm sudah cukup…. Namun apa yang terjadi sekarang beliau tidak 12 wpm lagi…..Kasus kedua terjadi pada tanggal 6 Februari 2002 dua orang rekan yang sedang berqso di 144.280 Mhz rekan yang satu memiliki kemampuan high speed sedangkan rekan yang satu (seorang Siaga, sekarang sudah penegak juga dari call area one) masih “biasa-biasa” saja kemampuannya. Beliau berkata “saya tidak pingin yang cepat-cepat”…. Namun apa yang terjadi hari demi hari berlalu beliau mengetuk dan menerima tidak “pelan-pelan” lagi… Kesimpulannya ungkapan-ungkapan dua rekan tadi itu adalah ungkapan yang situasional, emosional dan subyektif. Ada orang (pemorse) yang mengatakan bahwa mengetuk cepat-cepat (high speed) itu tidak perlu, tidak enak, tidak indah, tidak suka, tidak tertarik, tidak ada gunanya dan lain-lain dan lain-lain. itu karena yang bersangkutan tidak bisa atau tepatnya belum bisa, nah dalam rangka menjaga “wibawa” yang bersangkutan maka dia berkata seperti itu untuk dirinya maupun orang lain terutama rekan yang baru mulai belajar morse dan itulah yang saya maksudkan sebagai “pemahaman sesat” dalam konteks belajar dan mengajar morse.Kesimpulannya ungkapan-ungkapan seperti itu hanyalah ungkapan yang situasional, emosiaonal dan subjektif.

Sorry, Komputer Saya Tidak Bisa Baca

Posted in Amatir Radio on 10 Maret 2008 by pat3adri

Lagi-lagi judul di atas adalah ketukan dari seorang rekan amatir radio indonesia (penggalang) yang berasal dari call area one (callsign ada di redaksi he..3) yang terdengar pada 05 April tahun 2005 kurang lebih jam 16.25 wib dimana saat itu saya sedang standby di frekuensi 7.0250 Mhz maklum yangke delta hanya bisa mancar di 40 meter band dengan mode CW pada frekuensi tertentu. Tiba-tiba terdengan ketukan dengan gaya “SEMI” dengan kecepatan yang cukup lumayan. Karena gaya “SEMI” merupaka salah satu “makanan” sehari-hari saya maka dengan cepat pula kunci ketuk pedal ganda saya mainkan untuk merespon ketukan rekan tersebut. Namun apa yang terjadi komunikasi menjadi tidak nyambung alias jaka sembung” kata orang-orang, mengapa ??.. ternyata rekan tersebut tidak dapat menbaca ketukan saya walaupun telah berulang-ulang saya ketuk callsignnya dan callsignku serta apakabar dan seterusnya… dan seterusnya. Akhirnya pada putaran berikutnya terdengar ketukan seperti ini : “sri, komputer saya tidak bisa membaca apa yang om ketuk”. . . . Mau bilang apa dengan berat hati saya kembali standby, Saya bisa membaca ketukan “bapak komputer” namun sayang “bapak komputer” tidak bisa membaca ketukan saya…………Oooooh ternyata komputer bukan segalanya.-

Mulai Mengetuk

Posted in Amatir Radio on 8 Maret 2008 by pat3adri
Untuk memulai mengetuk maka anda harus mempunyai kunci ketuk yang baik (buatan sendiri atau pabrik) yang setting kelembutan maupun jarak kontak point disesuaikan dengan tangan anda – di sarankan selembut mungkin dan sedekat mungkin settingannya. Mulailah mnegetuk dengan mengikuti irama masing-masing karakter yang pada saat anda belajar dahulu sering di bunyikan dengan mulut misalnya “didadit” …. nah ketuklah huruf romeo itu sesuai dengan irama dan tempo yang anda bunyikan melalui mulut….. Ingat tempo yang terdengar dari mulut anda harus sama persis dengan tempo yang terdengar dari kunci ketuk yang anda bunyikan. Lakukan itu terus menerus pada setiap kesempatan untuk semua karakter kode morse.
 
Untuk tahap belajar ini maka di sarankan anda mengunakan kunci ketuk manual atas bawah. Namun kalau anda hanya memiliki kunci ketuk elektronik pedal ganda kiri-kanan tidak mengapa karena yang penting disini adalah tempo yang dibunyikan melalui mulut harus sama dengan tempo yang terdengar melalui ketukan. Tempo yang ideal adalah 1 : 3 satu untuk dit dan tiga untuk dah. Untuk kecepatan tergantung kemampuan tangan anda pada saat mulai mengetuk. Lakukan ini pada setiak kesempatan maka suatu hari nanti anda akan mampu mengetuk dengan “sempurna”. Ingat …. ketukan yang sempurna akan mengundang orang (pendengar) untuk betah dan terus mendengar ketukan anda walau dia tidak terlibat dalam lingkaran komunikasi yang sedang berjalan.-

Mengetuk, dan Menerima Kode Morse

Posted in Amatir Radio on 8 Maret 2008 by pat3adri

Mengetuk dan menerima kode morse ibarat uang logam dengan dua sisi yang berbeda tatapi satu. Jika anda sudah dapat membaca kode morse dengan sempurna pada kecepatan tertentu, maka latihan mengetuk perlu segera di mulai. Pada banyak kasus sering terdengan rekan yang belum dapat membaca dengan sempurna pada kecepatan tertentu sudah mulai mengetuk dengan kecepatan yang lebih tinggi dari kemampuan menerima. Pada prinsipnya hal itu tidak ada yang melarang namun yang terbaik adalah menerima harus di dahulukan daripada mengetuk. Mengapa menerima harus di dahulukan dari pada mengetuk…? jawabnya sederhana, karena mengetuk lebih mudah dari pada menerima.

Kalau anda hanya mahir mengetuk maka anda akan mengalami sesulitan untuk bergabung dengan suatu komunikasi yang tengah berlangsung karena anda tidak akan dapat membaca ketukan dari rekan sebab saat anda masuk maka mereka akan membalas ketukan anda dengan kecepatan yang anda ngetuk tadi, dan anda akan kelabakan karena tidak dapat membacanya. Kalau anda mahir menerima dengan kecepatan tertentu maka anda bisa ikut “nimbrung” dengan menggunakan phone sementara mereka tetap menggunakan tone. Kesimpulannya adalah “lebih baik bisa menerima ketukan daripada hanya bisa mengetuk”.-

Saya, Dia dan Samuel Morse

Posted in Amatir Radio on 8 Maret 2008 by pat3adri
Judul diatas adalah sebuah tulisan yang dapat anda baca di http://www.aaqq.net Cerita yang di buat oleh Rizki seorang mahasiswa yang sedang studi di negeri Belanda. Cerita ini merupakan salah satu bukti bahwa “morse bukan sekadar bunyi tetapi sebuah jiwa”. Petikan tulisannya sebagai berikut ………..“tiba-tiba saya merasakan adanya kode morse, kode titik dan garis yang dahulu saya pelajari ketika menjadi pramuka itu terasa sangat jelas di sekujur kaki kiri ini, aneh sekali, saya dahulu adalah bulan-bulanan kakak pembina akibat terlalu bodoh untuk bisa memahami kode ini, namun sekarang gerakan otot kaki kanannya memberikan sebuah pesan morse yang tiba-tiba saya mengerti. Novelnya bagus? begitu tanyanya dengan ragu saya menjawab pertanyaan itu dan tentunya menggunakan otot kaki, so far…ya, ia pun lalu membalas balik yang membuat saya bernafas lega………….”
 
Mereka akhirnya saling bertukar informasi dan seterusnya……….. dan seterusnya. Komunikasi dengan kode morse melalui otot kaki ini terjadi di atas kereta api antara seorang mahasiswi dari Turki bernama Leila dan mahasiswa dari Indonesia bernama Rizki. Saya yakin Samuel FB Morse tidak terpikir bahwa ratusan tahun kemudian kode yang dia ciptakan itu tidak hanya terbaca melalui bunyi tetapi dengan gerakan otot kaki seorang cewek cantik bernama Leila dari Turki dan cowok ganteng dari Indonesia bernama Rizki.. Benar.. benar.. benar “morse bukan sekadar bunyi tetapi sebuah jiwa”.-

Seniman 428

Posted in Amatir Radio on 15 Februari 2008 by pat3adri
Terlepas dari itu semua sungguh indah dan bahagia hari ini dapat mendengar serta menikmati irama kode morse yang merdu dari para seniman 428. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa menganugrahi kenikmatan kepada kita semua……. Amien….. (diketuk oleh seseorang tak dikenal pada malam hari di bulan Mei 2004).-

Bunyi Kode Morse

Posted in Amatir Radio on 15 Februari 2008 by pat3adri
Kadang bunyi kode morse sanggup berkomunikasi tanpa perlu pengulangan – pengulangan. Namun kadang ada pula bunyi kode morse baru dapat “berbicara” setelah di beri pengulangan. Dari sisi permukaan mungkin dapat disimpulkan bahwa bunyi kode morse akan dapat berkomunikasi tergantung pada penerimanya. Namun sebenarnya daya komunikasi dengan kode morse tidak semata ditentukan oleh penerima.Pengirim dan penerima tidak dapat di pisahkan dari hukum interaksi. Ketukan dengan ritme (irama) yang teratur, rapi dengan karakter yang jelas, jarak antar karakter maupun kata yang konstan adalah merupakan kata kunci untuk mengundang, memotivasi seseorang untuk mendengar, memperhatikan, menyimak dan mengerti bunyi kode morse yang pada akhirnya akan mencintai. (patri – 15 Februari 2008).-

Mencintai Morse

Posted in Amatir Radio on 22 Oktober 2007 by pat3adri

Untuk menjadi pemorse yang baik banyak hal yang harus di lakukan ataupun dimiliki oleh seseorang. Salah satunya adalah “mencintai”. Mencintai kode morse memerlukan perjuangan dan pengorbanan. Kita harus dapat berbagi kesempatan untuk selalu dan selalu mendengar dan menghafal bunyi kode morse secara rutin, mengapa bunyi kode morse harus dihafal?. Bunyi kode morse memang harus dihafal karena setiap karakter kode morse mempunyai bunyi (irama) sendiri-sendiri. Perjuangan dan pengorbanan kita akan sia-sia dan waktu yang kita sediakan untuk belajar morse akan terbuang percuma, kalau kita tidak memiliki komitmen yang kuat dan didasari oleh disiplin diri untuk belajar morse dengan sungguh-sungguh. Memulai memang sulit tapi kalau tidak kita mulai,…….. kapan memulainya?. Kesimpulannya kalau kita “mencintai” maka kita akan selalu berusaha dekat dengan objek yang kita cintai itu di manapun objek itu berada. – (yd0mfw – 12 Oktober 2007).-

Mendengar Bunyi, Menulis dan Mememori

Posted in Amatir Radio on 22 Oktober 2007 by pat3adri

Untuk seseorang yang telah “mencintai” kode morse, maka mendengar merupakan suatu “kebutuhan”. Dia akan selalu mendengar bunyi kode morse pada setiap kesempatan baik diradio maupun melalui media lain.

Sering mendengar (monitor) rekan yang sedang berkomunikasi atau berlatih dalam bentuk apapun, maka tanpa anda sadari lama-kelamaan bunyi itu akan menyatu dengan memori kita.Karakter kode morse memiliki irama sendiri-sendiri baik itu karakter huruf, tanda baca, angka dan lain-lain termasuk suku kata tertentu yang sering kita gunakan dalam proses komunikasi, seperti misalnya….. selamat, malam, pagi, sore, bagaimana, sekarang dan masih banyak lagi.

Sering mendengar dan sering melafalkan bunyi kode morse dengan mulut akan sangat membantu kita untuk lebih cepat memahami mengert sekaligus mememori bunyi-bunyi tersebut.Pada tahap awal dimana seseorang mulai belajar mengenal bunyi kode morse, maka menulis sepertinya merupakan harga mati untuk dilakukan, dengar dan tulis……… dengar dan tulis, kata -kata itu yang akan selalu anda dengar dari seseorang yang mengajar anda kode morse.

Sekali lagi hal ini penting untuk pembentukan awal bagi seorang pemorse – jika suatu ketika anda tidak menulis lagi, artinya anda lebih menyukai memori dalam berkomunikasi…. (?) itu urusan nanti…… Yang penting yang perlu dicacat dan diingat bahwa dalam menerima ketukan (menulis) jangan berusaha untuk membaca ketukan yang sedang ditulis atau berusaha untuk memcoba mengerti kata apa yang akan diketuk nanti – karena berhubungan dengan kata-kata sebelumnya.

Jika suatu saat nanti anda tiba-tiba tidak menulis karena anda telah dapat membaca dan mengerti kata-kata atau kalimat yang diketuk (mememori). Jika hal itu terjadi,…… berarti anda adalah seorang pemorse yang senang “berkomunikasi” dengan kode morse. Namun perlu diingat…… seorang pemorse yang baik adalah jika dia dapat menulis dengan sempurna, mememori dengan sempurna setiap ketukan dengan kecepatan (speed) yang telah dia kuasai, serta selalu mendengar dan mendengar.- (yd0mfw – 17 Oktober 2007).-