Dalam komunikasi dengan menggunakan kode morse, maka daya komunikasi akan sangat ditentukan oleh sang pengetuk dan sang penerima. Seberapa sempurnanya ketukan seseorang dan seberapa sempurna pula kemampuan seseorang untuk menerima ketukan, akan membuat kode morse itu dapat dengan sempurna pula “berbicara”.Dalam ‘blantika’ kehidupan kode morse khususnya dari sisi pengetuk, maka terdapat dua jenis ketukan. Yang pertama jenis ketukan “Universal” dan yang kedua jenis ketukan “Individual”.
Jenis ketukan Universal, adalah ketukan ideal yang pada umumnya dapat diterima oleh berbagai tingkatan kecakapan (speed). Mengapa demikian ?… Ketukan jenis ini mengacu kepada filosofi dasar kode morse yaitu perbandingan panjang bunyi antara nada pendek dan nada panjang, adalah 1 berbanding 3. Bunyi ‘dit” memiliki tempo 1 (satu) dan bunyi ‘dah’ memiliki tempo 3 (tiga) dengan spasi antar karakter memiliki tempo 1 (satu), sedangkan spasi antar kata memiliki tempo 3 (tiga).
Jenis ketukan Individual, adalah ketukan yang sifatnya subyektif. Ketukan ini melucuti filosofi dasar kode morse seperti yang dijelaskan diatas. Ketukan jenis Individual terbagi dalam 2 (dua) golongan. Yang pertama Full Individual, dan yang kedua Semi Individual seperti pada gaya ketukan SideSwiper, Semi Elektronik, dan Up & Down – yang tidak dibahas dalam tulisan ini.
Yang paling ekstrim dari 2 golongan ketukan Individual ini, adalah ketukan jenis Full Individual. Golongan pengetuk jenis ini tidak mau tahu dan memikirkan apakah ketukannya bisa terbaca atau tidak – karena dia mengetuk dengan maunya sendiri, dimana hanya dia dan Tuhan yang tahu. Golongan ini terdiri dari orang yang belum cakap mengetuk kode morse, dan orang yang telah bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun menggeluti dunia morse namun memiliki “kesombongan senioritas”.
Kesombongan senioritas bisa timbul karena beberapa hal. Pertama karena yang bersangkutan memang benar sombong dalam konteks kode morse. Dan yang kedua karena yang bersangkutan sebenarnya mau menutupi kekurangannya dalam hal mengetuk. Ruang waktu, tidak akan menjadi takaran bagi seseorang untuk dapat mengetuk dengan baik dan benar, karena karaketer diri dan permainan jari-jemari seseorang tidak pernah akan sama antara satu dengan yang lainnya.
Huruf R (romeo) jika dibunyikan dengan mulut akan berbunyi seperti ini ‘didadit’. Sementara untuk sebuah suku kata Cinta misalnya, akan berbunyi seperti ini ‘dadidadit (spasi) didit (spasi) dadit (spasi) da (spasi) dida. Semua kalangan pemorse diseluruh penjuru planet bumi ini akan dapat membacanya (sesuai dengan tingkat kecakapan speed yang dimiliki). Sementara jika suku kata Cinta, dibunyikan seperti ini ‘dadidaditdiditdaditdadida”, maka saya yakin dan percaya Samuel FB Morse sekalipun, ketika ketukan itu terdengar tidak akan dapat membacanya – ketukan tersebut bisa akan mungkin terbaca, jika kata cinta itu diketuk secara berulang-ulang dan sipenerima (pada tingkatan tertentu, pula…) harus mengeluarkan kemampuan, nalar, improvisasi, kreaktivitas, dan seluruh potensi yang ada pada dirinya untuk memahami, mengerti, dan membaca bunyi tersebut. Dan sudah barang tentu ketukan seperti itu tidak “layak tayang” untuk sebuah proses komunikasi – karena proses komunikasi adalah proses yang bersifat seketika.—
“Morse (kode morse) bukan sekadar bunyi tetapi sebuah jiwa”. Itulah yang selalu saya kumandangkan, dan tulis pada setiap kesempatan. Namun pada kesempatan ini tidak dibahas tentang jiwa tetapi tentang bunyi. Dasar dari kode morse adalah bunyi, dan bunyi itu terdiri dari nada pendek (dit) dan nada panjang (dah).
Dari kedua bunyi itulah karakter kode morse terbentuk.

